5 Makna Ziarah menurut Ilmu Kejawen

5 Makna Ziarah menurut Ilmu Kejawen Berziarah sudah menjadi lelaku utama kita sebagai umat muslim Jawa. Pada umumnya kita juga termasuk saya melakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan leluhur kita seperti Wali Songo. Nah, saya ingin menjelaskan 5 makna atau tujuan orang Jawa dalam melakukan lelaku ziarah ini.

Sebelumnya saya sudah menuliskan pengalaman saya pada edisi jejak parapsikolog yang menceritakan ziarah saya ke makam Sunan Nyamplungan putra dari Kanjeng Sunan Muria.

Masyarakat Jawa itu unik dengan muslim kejawen nya. Dan pribadi kejawen ini telah melekat erat dalam jiwa masyarakat Jawa hingga sekarang. Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai wujud bahwa mereka mempercayai dan menghormati leluhur dan keberadaan dunia ghaib.

Terdapat berbagai cara, ritual atau lelaku dalam menghormati leluhur dan keberadaan ghaib itu. Setiap lelaku yang dilakukan tentunya memiliki makna tersendiri, yang juga akan mendapatkan manfaat dan peranan dari menjalankan lelaku itu. Salah satu lelaku itu adalah dengan berziarah.

Berziarah adalah mengunjungi makam dari pendahulu-pendahulu dengan maksud mendoakan arwah mereka. Tidak hanya makam, namun terkadang ziarah juga dilakukan dengan mengunjungi petilasan yang pernah digunakan para leluhur atau pendahulu. Sebagian besar dari kita hanya mengetahui makna ziarah untuk mendoakan orang yang telah tiada yang pada umumnya sangat berjasa pada kita dan bangsa. Namun, sebenarnya ada 5 makna berziarah ini.

5 Makna Berziarah itu antara lain :

1. Ziarah Sebagai Pintu Gerbang untuk Belajar Ilmu Ghaib

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, jika akan melakukan lelaku (lelaku selain ziarah) untuk meningkatkan ilmu spiritual (seperti ilmu kebal, kanuragan, semedi,dll) , sebelumnya harus minta restu dari para pendahulu baik yang terdekat (orang tua) maupun yang agak jauh (kakek atau nenek). Setelah berziarah dengan mendoakan kedua orang tua, maka dapat melakukan ritual dan lelaku yang dimaksudkan.

Ziarah bagi masyarakat Jawa memang merupakan hal yang sakral sebagai pintu gerbang untuk menjalani ritual dan lelaku. Karena ziarah dianggap sebagai perilaku maka hal ini dapat digolongkan sebagai lelaku.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, jika melakukan ziarah sebelum menjalani ritual atau lelaku, maka ia akan mendapatkan perlindungan dan pengawasan dari para pendahulu yang telah diziarahi kuburnya. Maka dari itu, selain berziarah ke makam orang tua juga kebanyakan berziarah ke makam atau petilasan para pendahulu yang memiliki ilmu spiritual luar biasa, seperti Wali Songo.

2. Ziarah Untuk Mendoakan

Inilah makna dari ziarah yang sering kita lakukan. Mendoakan orang tua adalah wujud dari pengabdian diri seorang anak kepada orang tuanya. Hal ini dijadikan sebuah ritual, yaitu mengirim doa kepada orang tua kita. Tujuannya adalah agar orang tua atau leluhur yang kita doakan mendapatkan tempat yang terbaik di alam akhirat.

Ritual dilakukan dengan sederhana, hanya menggunakan media bunga. Bunga yang digunakan adalah kanthil, mawar, kenanga, dan jenis bunga lainnya yang memiliki wewangian menyengat.

Bunga yang diberikan di atas nisan ini dipercaya oleh masyarakat Jawa mampu mengurangi rasa siksaan yang terjadi di alam akhirat. Bentuk penyajiannya hanya dengan menaburkan bunga tadi di atas nisan. Setelah ditaburkan, maka dipanjatkan doa.

Hal ini sudah melekat menjadi sebuah kebudayaan yang dianggap sebagai kewajiban bagi masyarakat Jawa untuk tetap menghormati keberadaan gaib dan leluhur.

3. Ziarah Untuk Mencari Petunjuk

Dalam sebuah perilaku dan lelaku selalu memiliki berbagai tujuan. Jika seseorang dalam menghadapi masalah dan merasa tidak mampu menyelesaikan, maka ia akan mencari bantuan kepada orang lain. Jika masih tidak membantu, maka dilakukan ziarah ke maka orang terdekat atau makam dan petilasan dari orang yang memiliki jasa dan ilmu yang luar biasa di masanya.

Dalam ziarah ini, tujuan utamanya adalah untuk menjadi petunjuk, mencari pertolongan, mencari jalan keluar dari permasalahan yang dialami. Tujuan ini memang sedikit banyak sering ada dalam benak para peziarah hanya semata-mata untuk mendapatkan petunjuk atau jalan keluar dari masalah yang ada. Namun biasanya, ziarah dengan maksud demikian ini tidak dibatasi hanya pada lingkup makam saja, bisa juga ke tempat yang di anggap keramat seperti petilasan, sendang, goa, dan lain sebagainya.

Cara menjalani ziarah ini tidak hanya berdoa saja, tapi bisa dengan tidur dan semedi. Pelaku tidur pada tempat yang dianggap bisa memberikan petunjuk. Terlebih dahulu melakukan njawab (minta izin kepada pemilik tempat yang bersifat ghaib). Permintaan izin ini disusun dengan kalimat sendiri menurut pelaku. Selain dengan tidur, ritual dapat dilakukan dengan meditasi atau semedi di tempat tersebut.

Jika lelaku ini berhasil, secara tidak langsung akan mendapatkan petunjuk dalam bentuk wangsit. Wangsit di sini tidak dibatasi bentuknya. Bisa saja pelaku bertemu dengan yang dituju, terdengar suara ghaib, atau terdengar dan dijumpai dalam mimpinya.

4. Ziarah Sebagai Media Komunikasi Dengan Dunia Ghaib

Komunikasi dengan makhluk halus memang bukanlah hal yang sering dilakukan oleh orang awam, tetapi hal ini bisa saja terjadi karena kebetulan atau kesengajaan.

Dikatakan kebetulan karena peziarah tidak memiliki kemampuan untuk komunikasi, tetapi makhluk halus lah yang memang ingin menampakkan keberadaannya kepada peziarah.

Kesengajaan terjadi karena memang sang pelaku memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus.

Untuk bisa melakukan komunikasi maka peziarah melakukan ritual terlebih dahulu seperti puasa atau menyajikan beberapa sesaji yang dianggap perlu untuk dipersembahkan. Atau bila memang sudah ahli, bisa menggunakan media orang lain.

Komunikasi yang terjadi biasanya singkat. Seseorang yang melakukan komunikasi ini memiliki berbagai tujuan tertentu, misalnya untuk mengetahui sejarah dan asal usul dari tempat atau pendahulu yang berjasa di daerah tersebut seperti pada acara TV Dua Dunia.

5. Ziarah Untuk Memohon Kepada Yang Ghaib

Manusia memang memiliki metode berpikir yang beragam. Ada orang yang memilik pemikiran bahwa ia tidak bisa lepas dari hal-hal yang bersifat ghaib. Sehingga ia harus selalu berada di lingkungan yang berbau ghaib.

Sebagian pelaku ritual melakukan permintaan pada saat ia sedang melakukan ziarah disuatu tempat. Hal ini memang sudah biasa terjadi ketika masih marak nomor togel dan waktu-waktu sebelumnya. Bahkan masih terjadi hingga sekarang. Meminta pada yang ghaib agar diberikan sesuatu yang tidak hanya dalam lingkup kekayaan, namun juga hal lainnya yang ingin sekali dimiliki oleh pelaku.

Misalnya, seorang peziarah meminta agar diberikan aura pengasihan supaya dimudahkan dalam mendapatkan jodoh, atau memohon untuk diberikan benda pusaka yang tersembunyi di tempat tersebut, yang kemudian disebut sebagai penarikan benda pusaka.

Itulah 5 makna berziarah dalam masyarakat Jawa. Akan selalu ada maksud dan tujuan tertentu untuk seseorang yang melakukan lelaku seperti ziarah ini.

Saya sarankan, akan lebih bijak bila Anda berziarah untuk mendoakan arwah orang tua ataupun para pendahulu kita. Apabila Anda ingin hajat Anda terkabul melalui perantara para Wali Songo ataupun pendahulu lainnya, lebih baik Anda memanfaatkan Karomah mereka yang berupa Doa Karomah dan Tasbih Karomah. Insya Allah, dengan Wali sebagai perantaranya melalui amalan karomah mereka hajat Anda akan cepat dikabulkan.

Silahkan bagikan artikel ini ke media sosial favorit Anda jika bermanfaat.

654 total views, 1 views today

Bagikan informasi ke teman/kerabat melalui :