Puasa Kejawen – Rahasia Kesaktian dan Kejayaan Orang Jawa

Puasa Kejawen – Rahasia Kesaktian dan Kejayaan Orang Jawa – Tidak aneh lagi bila kita memandang orang jawa pada zaman dahulu penuh dengan kesaktian. Tidak perlu terlalu jauh memandang ke belakang, eyang atau bahkan eyang kita yang berasal dari jawa pasti memiliki salah satu ilmu.

Untuk bisa menjadi sakti, ada banyak sekali jenis tirakat yang dilakukan oleh masyarakat jawa zaman dahulu, salah satu tirakat jawa itu  adalah dengan melakukan puasa. Puasa yang dimaksud ini adalah puasa kejawen yang berbeda dengan puasa seperti di bulan Ramadhan. Puasa Kejawen sendiri berada diluar konteks ibadah keagamaan.

Puasa kejawen dipercaya oleh masyarakat jawa mampu meningkatkan energi spiritualnya, membuka dan meningkatkan mata batin serta memudahkan jalan meraih impian. Masyarakat jawa juga percaya semua kekuatan bisa ditebus dengan rasa lapar. Menahan diri untuk memperoleh pencapaian yang lebih tinggi.

Ada 11 jenis Puasa Kejawen, dimana beberapa diantaranya sudah saya laksanakan ketika masih remaja. Ketujuh belas jenis puasa itu antara lain :

  1. Puasa Mutih

Puasa mutih memiliki tujuan untuk meraih ilmu kebatinan yang bisa menunjang untuk meraih kesuksesan.

Puasa ini biasanya dilakukan 3 hari atau lebih sesuai dengan besarnya ilmu kebatinan yang ingin dikuasai, bahkan beberapa ada yang melakukan puasa mutih ini selama 40 hari

Sesuai namanya ketika melakukan puasa mutih hanya boleh makan nasi putih dan minum air putih. Tidak boleh ditambah apapun seperi sirup, gula, garam, dll. Harus benar-benar nasi putih dan air putih.

Hal ini dimaksudkan agar orang yang menjalankan puasa mutih dapat membersihkan jiwa dan raganya dengan tujuan mempermudah merasuknya energi dalam meraih ilmu kebatinan.

  1. Puasa Ngebleng

Ngebleng dalam bahasa Indonesia berarti Kosong. Seseorang yang melakukan puasa ngebleng harus menghentikan segala aktifitas sehari-harinya selain menahan diri untuk menahan lapar dan dahaga.

Seseorang yang melakoni puasa ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidurnya pun juga harus dikurangi. Ketika malam pun tidak boleh ada cahaya sedikit pun yang menerangi kamar. Kamar harus gelap gulita.

Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam, hanya diperbolehkan keluar hanya untuk buang air saja.

Hasil yang didapat dari puasa Ngebleng adalah menguatkan sukma atau jiwa dari orang yang menjalankannya. Dan diharapkan bisa menekan nafsu duniawi. Pada umumnya, orang yang menjalankan puasa ini memiliki tujuan agar dimudahkan jalan untuk meraih keinginannya.

  1. Puasa Weton

Puasa Weton adalah salah satu puasa yang sering dilakukan orang masyarakat Jawa hingga sekarang. Jenis puasa kejawen ini adalah yang paling dikenal dan dianggap normal dalam tatanan masyarakat.

Weton sendiri berarti hari kelahiran. Ada 6 hari weton dalam peninggalan, atau yang biasa disebut juga sebagai hari pasaran, yaitu Pahing – Pon – Wage – Kliwon – dan Legi.

Puasa weton dilakukan pada hari yang mengapit hari weton pelakunya, misal wetonnya Senin Pahing, maka berpuasa sejak hari Minggu legi hingga selasa pon. Untuk tata caranya sendiri, puasa ini hampir sama dengan puasa pada umumnya yang dilakukan samapi maghrib.

Manfaat weton bagi orang Jawa dipercaya sebagai penolak sial atau tolak bala atau pencegah kesialan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan orang Jawa yang menganggap  hari weton adalah waktu terlemahnya seseorang hingga ia rawan mengalami kesialan dan mudah diserang secara ghaib.

Dengan berpuasa weton, dipercaya dapat memperkuat energi batinnya yang berfungsi sebagai pagar gaib atau tameng gaib.

  1. Puasa Ngeroh

Puasa ngeroh hampir sama dengan Puasa Mutih, bila puasa mutih hanya dibolehkan makan nasi putih dan air putih, puasa Ngeroh hanya boleh memakan sayuran atau buah-buahan. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dan sebagainya.

  1. Puasa Pati Geni

Sebagian dari kita telah mengenal ritual pati geni sebagai ritual yang biasa dilakukan oleh umat Hinu di Bali ketika perayaan hari Nyepi. Namun selain di Bali ritual Pati Geni juga ada di Jawa, hanya saja di Jawa yang disebut sebagai Pati Geni merupakan sebuah ritual puasa Kejawen

Tujuan Puasa Pati Geni hampir sama dengan Puasa Mutih dan Puasa Ngebleng, yaitu untuk dimudahakan dalam meraih keinginannya. Bedanya Puasa Pati Geni jauh lebih besar khasiatnya, dan tentunya syaratnya pun tidak mudah.

Cara melakukannya hampir sama dengan puasa Ngebleng, namun dalam menjalankan puasa Pati Geni ruangan harus gelap gulita dan tidak diperbolehkan keluar ruangan sama sekali meskipun untuk buang hajat.

Selama menjalankan puasa Pati Geni, diwajibkan memfokuskan pikiran hanya untuk memanjatkan doa agar keinginannya terwujud dan menekan nafsu duniawi. Puasa ini dilakukan selama 24 jam hingga satu minggu oenuh, tergantung pada niatan dan besarnya hajat yang ingin diraih.

  1. Puasa Ngrowot

Puasa ini adalah puasa yang dilakukan dari subuh hingga maghrib seperti puasa pada umumnya. Namun ketika sahur orang yang menalankan puasa ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan saja. Diperbolehkan memakan buah lebih dari satu tetapi dengan jenis buah yang sama. Diperbolehkan keluar rumah dan tidur.

  1. Puasa Nglowong

Seseorang yang melakukan puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Puasa Ini hanya memperbolehkan tidur 3 jam saja dalam 24 jam.

  1. Puasa Nganyep

Puasa Nganyep merupakan puasa yang unik, dalam menjalankan puasa ini hanya boleh memakan makanan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaannya makanannya lebih beragam asalkan tidak mempunyai rasa sama sekali atau tidak diberi bumbu apapun.

Puasa Nganyep dijalankan seperti puasa lainnya yaitu selama 24 jam, mulai dari jam 18.00 hingga jam 18.00 keesokan harinya.

  1. Puasa Ngidang

Puasa ini hanya memperbolehkan memakan dedaunan dan air putih saja. Selain itu tidak diperbolehkan.

  1. Puasa Ngepel

Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari (24 jam) satu kepal saja. Terkadang diperbolehkan sampai tiga kepal nasi sehari.

  1. Puasa Pendhem

Untuk puasa jenis ini, selain dibutuhkan kekuatan fisik dan tekad yang kuat, dibutuhkan nyali yang cukup besar. Puasa ini adalah yang paling ekstrim dalam menjalankannya.

Biasanya puasa ini dilakukan didalam sebuah area perkuburan yang sepi dan menuburkan sebagian badan hingga menyisakan kepala saja. Dan konon katanya selama menjalankan puasa ini dalam keadaan dikubur akan muncul berbagai macam makluk-makluk mengerikan yang akan menguji mental dan keteguhan hari dari orang yang menjalankannya. Hanya orng yang sudah mahir dan ahli tirakatlah yang mampu menjalani ritual ekstrim yang satu ini.

Tujuan dari melakukan puasa ini adalah untuk mendapatkan kesaktian dan dibukakan mata batinnya.

Puasa kejawen diatas merupakan salah satu tirakat jawa yang dilakukan masyarakat Jawa dari jaman dahulu sebagai proses mencapai tingkatan ilmu mata batin atau spiritual lebih tinggi.

Konon katanya puasa kejawen masih banyak dilakukan sampai sekarang. Jika Anda ingin mempraktikkan salah satu puasa kejawen diatas, sebaiknya didampingi atau berkonsultasi terlbeih dahulu dengan orang yang benar-benar mengerti dengan ritual kejawen.

Kang, katanya pernah melakukan puasa kejawen, puasa yang mana yang dilakukan?

Oh iya, hampir saja saya lupa. Ketika remaja saya dididik oleh mbah saya untuk menjalankan puasa ngebleng, puasa mutih, puasa weton. Hal itu dilakukan oleh mbah saya untuk menempa ilmu spiritual saya yang mulai tumbuh saat itu. Untuk puasa weton masih saya lakukan hingga sekarang.

Jangan lupa share artikel ini bila bermanafaat

898 total views, 19 views today

Bagikan informasi ke teman/kerabat melalui :